Pakar Astronomi John Hopkins University Jawab Isu Alam Semesta Lebih Tua dari Perkiraan

Pakar Astronomi John Hopkins University Jawab Isu Alam Semesta Lebih Tua dari Perkiraan

Jakarta: Pakar Astronomi dan Astrofisika, Dr Abdurro’uf, mengungkap sejarah perkembangan astronomi dari masa Yunani kuno hingga astronomi modern yang membutuhkan fasilitas teleskop raksasa dan teleskop luar angkasa, seperti Hubble Telescope dan James Webb Space Telescope (JWST).
 
Hal itu disampaikan dalam Webinar IPB Physics Talk edisi 51 yang digelar Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University. Dr Abdurro’uf membawakan materi ‘The hunt for the first galaxies in the universe using James Webb Space Telescope (JWST)’.
 
Dia mejelaskan JWST merupakan teleskop observasi angkasa terbaru bernilai 150 triliun yang dikembangkan National Aeronautics and Space Administration (NASA), European Space Agency (ESA) dan Canadian Space Agency (CSA). Teknologi terbaru dari JWST memungkinkan menangkap citra dengan ketajaman gambar yang lebih detail dibandingkan dengan teleskop Hubble.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sehingga, mampu melihat lebih jauh sisa radiasi dari ledakan big bang untuk mempelajari evolusi alam semesta.
 
“Melalui JWST dapat dipelajari mekanisme pembentukan bintang dan galaksi pada masa setelah big bang (early universe), juga karakteristik planet ekstrasolar pada berbagai macam sistem bintang di luar matahari,” kata peneliti Post Doctoral di Department of Physics, John Hopkins University, Maryland USA itu dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan IPB University, Kamis, 10 Agustus 2023.
 
Dr Abdurro’uf juga mengungkap berbagai temuan terbaru dari JWST, seperti pencarian galaksi tertua di jagat raya melalui high redshift observation. Dia juga membahas isu terkini terkait usia jagat raya.
 
Model standar kosmologi menyatakan usia jagat raya adalah 13,8 miliar tahun lalu. Namun, penemuan klaster galaksi yang muncul pada 325 juta tahun setelah big bang memunculkan berbagai spekulasi.
 
Sebab, model standar kosmologi selama ini mengasumsikan pembentukan galaksi terjadi pada miliaran tahun setelah big bang. Bahkan, kata dia, Prof Gupta dari Ottawa University Canada, berspekulasi usia jagat raya hampir dua kali lipat usia saat ini, yaitu 26,7 miliar tahun.
 
Hal ini karena efek ‘kelelahan cahaya’ dan evolusi dari suatu konstanta fisis baru. Namun, Dr Abdurro’uf menekankan kembali landasan teori dari Prof Gupta masih terlalu lemah dan spekulatif dan saat ini tidak didukung oleh data pengamatan astronomi.
 
Pada akhir acara, Ketua Departemen Fisika IPB University, Tony Sumaryada, juga memberikan token of appreciation kepada Dr Abdurro’uf. Dia berterima kasih karena Dr Abdurro’uf telah meluangkan waktu untuk membagikan ilmu dan menginformasikan perkembangan ilmu terkini di bidang astronomi dan astrofisika langsung dari pusat penelitian dan kontrol JWST di Maryland, USA.
 
“Kami berharap Dr Abdurro’uf dapat terus memberi update terkait penemuan-penemuan penting yang diperoleh teleskop JWST, serta menjalin komunikasi dan kolaborasi terkait riset terdepan (frontiers of science) di bidang astronomi, astrofisika dan kosmologi,” ujar Tony.
 

 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(REN)

Quoted From Many Source

Baca Juga  Pelatih Paskribra Lampung Selatan Jatuh dari Tiang Bendera usai Benarkan Tali yang Putus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *